Perjuangan Hijrah

/
0 Comments
Ketika kemungkaran bermesraaan dengan diri, kemaksiatan terasa nikmat, perlahan hilang perasaan bahwa maksiat berbalas dosa. juga terlupa bahwa hidup itu sementara, hidup itu bukan perkara bicara hari ini, hidup juga bicara masa depan. Masa depan yang gemilang, akan di tentukan proses hari ini, jika ingin masa depan bahagia atau sensara kita yang memilih. ada yang bercita-cita menjadi orang makmur termasyur, dia mulai menggagas dari awal, dengan perjuangan pelik, dengan kerja keras tak kenal lelah.

Tapi muncul pertanyaan, apakah perjuangan itu sudah cukup? apakah orientasinya sudah benar? benar atau tidak tergantung kepada orientasinya, boleh jadi orientasinya dunia,dengan perjuangan keras itu dia meperolehnya. Atau ada juga berjuang orientasinya adalah akhirat, dia mati-an mempertahan akhidahnya, atau dia diterpa dengan cobaan sehingga menguji keistiqomahannya, tapi yakinlah seseorang akan di uji dimana titik terlemahnya.

Setiap orang tentu berbeda titik lemahnya, yang membuatnya harus meradang mempertahankan istiqomahnya, untuk hijrah boleh jadi bukan perkara yang sulit, namun yang menjadi tentangan terberat adalah mempertahankan istiqomah itu. Seorang preman, sekarang sudah hijrah, sehingga orang-orang menyebutnya mantan preman, orang-orang simpati dengan, dan orang merasa salut atas percapai hijrahnya, yang dahulu berbaur dengan dunia kelam, kini sudah lebih baik.
Maka ini sesuatu yang di senangi semua orang, perbuatan buruk sudah menjelma menjadi perbuatan yang baik, yang dahulu ketika melihatnya saja orang-orang marah bawaanya, ingin selalu menhindar sekarang tak seperti dulu. kebalikannya, ada seorang ustadz begitu termasyur baiknya, begitu mulia akhlaknya, setiap orang bahagia ketika dia bereda di tengah-tengah mereka, setiap kata selalu bernada hikmah, namun beberapa bulan yang lalu dia di terpa sisi lemahnya.

Yaitu dia kehilangan istrinya, anak-anaknya dan hartanya dia punya hilang semuanya, sehingga dia mampu menstabilkan mentalnya. dia lari keminuman keras dan narkoba, sehingga hidupnya sangat semberaut, hilanglah kebaikan yang dia miliki selama ini di hadapan Tuhan-Nya dan orang-orang selalu memetik hikmah darinya. Sampai pada puncaknya, dia belum juga berhasil menstabilkan dirinya, hingga bunuh diri, dan mati dalam keadaan yang tidak baik, mati dalam keadaan tidak istiqomah. tapi itulah hidup penuh dengan skenario, yang setiap skripnya kita harus membuatnya menjadi cerita yang bernuansa kebaikan.

Kita tidak tahu besok, satu tahun, sepuluh tahun atau masa tua kita, apakah kita yang baik sekarang akan terus baik, atau sebaliknya, dan begitu juga orang-orang yang kita anggap buruk, belum tentukan dia akan tetap seperti itu. Maka terus jalani hidup, terus berdo'a kepada Allah agar kita selalu istiqomah, ketika kita uji di titik lemah kita, terus berusaha melewatinya, cari Allah kapan saja, jangan pernah cari Allah peruh waktu, karena dengan selalu bersama Allah ujian seberat apapun akan dapat di lewati.
semoga kita selalu istiqomah, semoga kita, Allah matikan dalam keadaan Ushnul Khotimah, Aamiin.


You may also like

Tidak ada komentar: