Haruskah Aku Jadi Driver Ojol Untuk Memboncengmu?

/
0 Comments
Ilustrasi OJOL


Di era revolusi 4.0 teknolgi berkembang begitu pesat, peran manusia sudah mulai di gantikan oleh robot, yang dahulunya untuk merakit sebuah mobil membutuhkan waktu yang cukup lama, namun sekarang hanya butuh waktu yang singkat.
.
Banyak karyawan yang harus di PHK karena distribusi kerja telah di kerjakan oleh robot dan mesin automasi. Yang dahulunya perusahaan membutuh tenaga ribuan orang, sekarang hanya butuh ratusan orang, itupun sifatnya controling dan monitoring, sebab perkerjaan yang sifatnya teknis sudah di kerjakan secara automasi.
.
Tentunya dari segi produksi meningkat pesat, dan waktunya lebih singat serta proses produksi lebih efesien. Perusahaan hanya butuh perawatan dan servis mesin saja secara berkala. Selain lahirnya automasi tentunya penomena ini akan mempengaruihi habit masyarakat, bahkan interaksi sosial akan berubah drastis, lahir orang-orang introvert, yang tidak peka dengan lingkungan sekitarnya dan individualistik akan menjadi hal yang bisa.
.
Kita boleh bangga di era revolusi 4.0 ini, seperti yang di sampaikan oleh presiden Joko Widodo, bahwa di indonesia telah banyak lahir startup, bahkan startup anak bangsa ada yang sudah menjadi unicorn, bahkan salah startup seperti gojek yang karya anak bangsa sedang bertransformasi menjadi decacorn.
.
Namun sebagai seorang kader dakwah yang selalu menjunjung nilai keislaman, dan konsisten menjaganya. Mulai tergerus oleh pengaruh revolusi 4.0 ini misalnya saja, kader dakwah yang biasa kesehariannya dengan al-qur'an sekarang menjadi orang-orang yang screentime dengan smartphonenya.
.
Ada hal yang mungkin lebih sepele seperti ketepatan waktu tak lagi menjadi prioritas seperti dahulu, cencel waktu rapat itu hal yang biasa, apalagi terlambat, wah itu lumrah sekali. Antah apa yang terjadi seakan keberkahaan itu sudah mulai di cabut.
.
Dan ini juga menarik, saya pernah janjian dengan ikhwah untuk qtime di tempat makan, kami berkumpul ada beberapa orang, tujuan awal adalah untuk mempererat ukhuwah agar ikatan hati lebih dekat. Namun semua tidak seperti ekspektasi sebab semua sibuk dengan smartphone nya, ya tempat itu hanya tempat makan biasa, tidak ada di temukan ukhuwah.
.
Oke kita lanjutkan saja kepoint seperti yang di tuliskan di judul, ini yang sangat meyayat hati, dahulu saya pernah mendengar kakak senior berkata seperti ini, kader dakwah itu tidak boleh boncengan dengan perempuan, dan kami terima itu, dan kami berusaha keras menjaga prinsip itu, bahkan di KKNpun kami beralasan untuk tidak membonceng perempuan, teman sesama KKN agar prinsip itu tetap sakral.
.
Namun prinsip itu tenyata perlahan pudar, Alhamdulillah kami ikhwan terus menjaga prinsip tersebut, kecuali dalam keadaan darurat sekali, ya itu ikhwan lo? Bagi kami membonceng perempuan itu adalah suatu kehinaan yang sangat.
Tak peduli teknologi bertransformasi.
.
Saya adalah salah seorang yang sehari-hari berbaur dengan transfortasi umum mulai dari angkot, busway, ojek, dan lainnya. Dalam hal ini banyak sedikitnya saya tahu makanisme transfortasi ini. Kita contohkan saja angkot, rata-rata penumpang angkot itu adalah perempuan, sebab laki-laki lebih cenderung pakai kendaraan pribadi. Dan kita coba lihat transfortasi umum yang lain seperti buysways (trans padang) bahkan disana sudah rata-rata penumpangnya adalah perempuan dan ada juga di kursi dibelakang supir tempat duduk yang khusus perempuan.
.
Dan pengamatan saya tidak hanya di kota padang saja di ibu kota (Jakarta) contohnya untuk buysway (trans Jakarta) selain dalam satu bus itu ada tempat duduk khusus perempuan dan ada  juga bus yang khusus perempuan saja penumpangnya, dan saya juga mengamati transformasi umum lain, yaitu commuterline (kereta listrik) juga sama ada tempat duduk atau gerbong yang khusus perempuan.
.

Ya, sekarang menjadi pertanyaannya adalah seberapa daruratnya transfortasi khususnya di kota padang, sehingga membuat para akhwat kader dakwah harus nanti ojek online dan drivernya laki-laki? Apakah jika akhwat tidak naik ojek online bisa mati? Atau kurang komplitnya alternatif kendaraan umum tadi? Atau yang membuat akhwat naik ojek online karna malas berjalan sedikit ke jalan raya? Afwan para ashatizah dan ummahat kita dahulu ketika masih berkecimpung di dakwah yang tengah kita kenyam ini, mereka berjalan kaki belasan KM, bahkan lebih berat dari itu, sehingga membuat mereka jadi kader yang memiliki militansi yang luarbiasa.
.
Ya, mungkin kader akhwat sekarang sudah manja, takut jalan kaki sedikit nanti kakinya capek, atau cuaca panas nanti HITAM, wah saya lihat kok banyak yang pakai payung ya? Gak hujan lo? Hmm takut hitam ya?
.
Ya semoga ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini, dan harapan kedepannya berubah dan jangan di darurat-daruratin, padahal tidak darurat tapi malas dan takut hitam, hingga harus mengorbankan prinsip. Pikir aja kita nanti suamimu bertanya apakah pernah di bonceng laki-laki? Lalu kamu jawab apa? Harus jujur jawabnya. Saya sudah di bonceng laki-laki yang tidak mahram puluhan kali.
.
Ya, kembali kejudul Apakah Aku Harus Menjadi Driver Ojek Online Untuk Membocengmu? maaf jika saya salah, saya berharap yang membaca tulisan ini tersinggung, dan ini sudah lama ingin saya sampaikan.

[Rian Rendi]


You may also like

Tidak ada komentar: